Kekeringan Januari-Agustus 2015 79.562Ha


INILAHCOM, Jakarta - Menjaga produksi komoditi pangan strategis khususnya padi, Kementerian Pertanian (Kementan) intensif memantau perkembangan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), banjir dan kekeringan. Januari hingga Agustus 2015, Kementan mencatat luas areal padi mengalami puso karena serangan OPT, banjir dan kekeringan seluas 102.072hektare (ha).

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Dwi Iswari berdasarkan keterangan tertulis, Minggu (13/09/2015) mengatakan pemantauan perkembangan serangan OPT, banjir, dan kekeringan tersebut melalui Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi seluruh Indonesia.

Luas puso padi pada periode Januari hingga Agustus 2015 tersebut lebih besar disebabkan karena kekeringan yakni seluas 79.562 ha atau 0,90% dari luas tanam 8.828.861 ha. Kondisi tersebut daerah terparahnya terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera selatan yang puncaknya terjadi di bulan Juli," tegas Iswari.

Kemudian puso berikutnya, lanjut Iswari, yakni disebabkan karena banjir seluas 16.920ha (0,19 ha dari luas tanam 8.828.861ha) terutama terjadi Banten, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur yang puncaknya terjadi di bulan Februari. "Sedangkan puso karena OPT seluas 5.591 ha (0,06% dari luas tanam 8.828.861 ha) kondisi terparahnya terjadi di Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara dan Jawa Timur, puncaknya itu terjadi di bulan Juli," ujar dia.

Musim kemarau (MK), April hingga Agustus 2015, ia menjelaskan, luas areal padi mengalami puso karena serangan OPT, banjir dan kekeringan seluas 88.575ha atau 1,74% dari luas tanam 5.092.848ha. Luas puso tertinggi pada periode tersebut karena kekeringan seluas 79.465 ha (1,56% dari luas tanam 5.092.848ha) terutama terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan yang puncaknya terjadi di bulan Juli.

"Puso berikutnya disebabkan karena OPT seluas 5.367ha atau 0,11 persen dari luas tanam 5.092.848ha terutama terjadi di Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara dan Jawa Timur yang puncaknya terjadi di bulan Juli. Sedangkan puso karena banjir hanya 3.743ha (0,07% dari luas tanam 5.092.848ha terutama terjadi di Sulawesi Selatan, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Puso tertingginya terjadi pada bulan Juni," tandas dia.

Sementara itu, musim hujan (MH) 2014/2015 (Oktober-Maret), luas areal padi mengalami puso karena serangan OPT, banjir dan kekeringan seluas 40.627ha atau 0,50% dari luas tanam 8.186.545 ha. Luas puso tertinggi pada periode tersebut karena banjir seluas 34.222ha (0,42% dari luas tanam 8.186.545 ha). Kemudian puso disebabkan karena kekeringan seluas 5.929ha (0,07 dari luas tanam 8.186.545ha).

"Terakhir, puso disebabkan karena OPT seluas 476ha atau 0,01 persen dari luas tanam 8.186.545ha,"kata dia.

Sebagai pembanding, luas areal padi terkena puso karena OPT, banjir dan kekeringan tahun 2014 (Januari-Desember) yakni seluas 178.892ha atau 1,32% dari luas tanam 13.569.481 ha). Luas puso tertinggi pada periode tersebut karena banjir seluas 141.045ha. Selanjutnya puso disebabkan karena kekeringan seluas 35.423ha dan puso karena OPT seluas 2.424ha,"imbuh dia.

Ia menjelaskan, upaya Kementab mengendalikan serangan OPT dan menangani banji serta kekeringan dengan pengendalian OPT utama pada tanaman padi seluas 744.701ha dan merealisasikan pelaksanaan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) skala luas tanaman padi melalui penggunaan dana APBN sebanyak 82 unit (2.050ha) mencapai 57,75 % dari rencana 142 unit (3.550ha).
 
“Ketiga, Kementan juga merealisasikan pelaksanaan Penerapan PHT skala luas tanaman padi melalui penggunaan dana APBN-P sebanyak 68 unit yakni 2.050 hektar mencapai 20,92 persen dari rencana 325 unit yakni sebesar 8.125ha. Keempat, Kementan juga terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait serta melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin terhadap perkembangan luas serangan OPT, banjir dan kekeringan. Dan kelima, Kementan terus melakukan penyerahan Cadangan Benih Nasional (CBN)," tutur dia. [aji]



Read More : Kekeringan Januari-Agustus 2015 79.562Ha.



0 komentar:

Posting Komentar